Latar Belakang Terjadinya Revolusi Industri
Sebelum abad ke-18 sistem perekonomian masyarakat Eropa sangat bergantung pada sistem perekonomian agraris. Akan tetapi, setelah memasuki abad ke-18 terjadi perubahan besar dalam pola hidup masyarakat Eropa. Perubahan tersebut ditunjukan dengan mulai digunakannya tenaga mesin sebagai alat produksi di pabrik-pabrik menggantikan tenaga manusia dan hewan. Perubahan inilah yang disebut dengan Revolusi Industri
Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok kehidupan masyarakat. Revolusi Industri adalah perubahan teknologi, sosio - ekonomi, dan budaya pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 yang terjadi dengan penggantian ekonomi yang berdasarkan pekerja menjadi yang didominasi oleh industri dan produk mesin. Revolusi ini dimulai di Inggris dengan perkenalan mesin uap (dengan menggunakan batu bara sebagai bahan bakar) dan ditenagai oleh mesin (terutama dalam produksi tekstil).
1. Pengertian Revolusi Industri
Dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Revolusi Industri telah mengubah cara kerja manusia dari penggunaan tangan menjadi penggunaan mesin. Istilah “Revolusi Industri” diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19.
Revolusi Industri dapat dikatakan sebagai suatu peristiwa yang mengubah sistem ekonomi agraris menjadi sistem ekonomi industri yang menggunakan tenaga mesin sebagai alat produksinya, menggantikan tenaga hewan dan manusia. Sebelum dikenal alat-alat mekanis dan otomatis, masyarakat Eropa bekerja dengan menggunakan alat-alat manual (menggunakan tenaga manusia) dan masih mengandalkan kecepatan kedua tangan dan kaki. Artinya, alat-alat tersebut tidak akan berfungsi dan bekerja jika tidak ada tangan atau kaki sebagai penggeraknya. Peralatan yang dimaksud seperti cangkul, parang, sekop, gergaji, pisau, pengukur, palu, penenun, pemintal, pancung, jala, pendayung dan lain-lain.
Pada masa Revolusi Industri, peralatan tersebut jarang digunakan sebab telah ditemukan mesin pemintal, mesin tenun, lokomotif, dan lain sebagainya. Semua mesin tersebut bukan digunakan dengan tangan dan kaki, tetapi oleh mesin uap. Dengan demikian, pada masa Revolusi Industri terjadi penghematan tenaga manusia. Setelah Revolusi Industri terjadi, perbedaan pola hidup masyarakat sangat terlihat.
2. Latar Belakang Terjadinya Revolusi Industri
Awal mula Revolusi Industri tidak terlalu jelas tetapi T.S. Ashton menulis kira-kira 1760 - 1830. Tidak ada titik pemisah dengan Revolusi Industri II pada sekitar 1850, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi mendapatkan momentum dengan perkembangan kapal tenaga uap, rel, dan kemudian di akhir abad tersebut perkembangan mesin bakar dalam dan perkembangan pembangkit tenaga listrik.
Revolusi Industri di kawasan Benua Eropa bermula di negara Inggris. Kemudian pada awal abad ke-19, mulai menyebar ke negara-negara Eropa lainnya dan negara-negara di benua Amerika. Adapun sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya Revolusi Industri adalah sebagai berikut.
Pertama, tingginya tingkat keamanan di negara Inggris. Mantapnya kondisi keamanan negara Inggris pada sekitar abad ke-18, sehingga menjamin seluruh segi kehidupan masyarakat Inggris pada saat itu. Begitu pula dengan sistem ekonomi, masyarakat Inggris dengan tenang dan tanpa rasa takut menjalankan roda perekonomian mereka.
Kedua, mulai berkembangnya kegiatan kewiraswastaan dan manufaktur. Perkembangan masyarakat Eropa sebelum Revolusi Industri hidup dalam sistem perdagangan yang masih menggunakan uang dan sistem barter. Kegiatan-kegiatan produksi dilakukan di rumah-rumah atau kerajinan rumah (home industry). Di Prancis dikenal istilah “gilda”, yaitu bengkel kerja dan pusat usaha. Setiap orang yang akan memesan barang-barang dapat menghubungi gilda. Alat-alat yang dihasilkan oleh gilda adalah alat rumah tangga, alat kerja pertanian, dan lain sebagainya. Gilda baru bekerja apabila ada pesanan.
Perkembangan selanjutnya dari gilda ini adalah munculnya minat yang kuat dari masyarakat Inggris terhadap tempat pengolahan yang lebih memadai seperti pabrik. Dari minat inilah, muncul kegiatan ekonomi manufaktur di mana para pekerja tidak lagi bekerja di rumah-rumah melainkan bekerja di tempat-tempat khusus yang disediakan pengusaha sebagai tempat produksi.
Ketiga, Inggris memiliki kekayaan alam terutama batu bara dan bijih besi. Kekayaan SDA Inggris seperti yang banyak ditemukan batu bara dan bijih besi, telah membantu Inggris dalam mengembangkan industrinya karena batu bara dan bijih besi sangat diperlukan dalam proses produksi. Batu bara dijadikan sebagai bahan bakar mesin-mesin dan bijih besi diperlukan untuk industri berat. Kekayaan alam tersebut ditunjang oleh kemampuan dan keinginan manusianya.
Orang Inggris dikenal sebagai orang yang rajin dan tekun dalam meneliti alam. Kemauan dan keuletan dari orang Inggris itu didukung oleh adanya lembaga penelitian yang bernama The Royal for Improving Natural Knowledge yang didirikan oleh pemerintah Inggris pada 1662 dan The French Academy of Science yang didirikan pada 1666. Kedua lembaga tersebut mensponsori kegiatan kegiatan eksplorasi alam, sehingga dengan adanya lembaga-lembaga ini telah mendorong terjadinya penemuan-penemuan baru di kemudian hari.
Keempat, Inggris memiliki banyak daerah jajahan. Kerajaan Inggris pada abad ke-18 memiliki banyak daerah jajahan yang tersebar di benua Afrika dan Asia. Daerah-daerah jajahan inilah yang mendukung kegiatan industri Inggris, karena daerah-daerah jajahan tersebut dapat menyediakan bahan baku yang diperlukan oleh industri Inggris. Selain itu, daerah-daerah jajahan tersebut dapat dijadikan sebagai tempat pemasaran hasil industri Inggris.
Kelima, terjadinya Revolusi Agraria. Kondisi masyarakat Inggris yang dilanda Gejolak turut melatarbelakangi Revolusi Industri di negara tersebut. Gejolak yang yang dimaksud adalah Revolusi Agraria (pertanian). Revolusi Agraria ini disebabkan oleh berkembangnya kerajinan pakaian wol, yang dengan sendirinya meningkatkan permintaan bulu domba. Karena hal itu, usaha dibidang wol menjadi sangat menarik, maka tanah pertanian diubah menjadi peternakan domba.
Untuk keperluan peternakan domba tersebut, tanah para bangsawan yang tersebar letaknya dikumpulkan dengan cara ditukar-tukar dengan tanah milik petani. Tanah yang berupa tanah padang rumput itu dipagari dan digunakan sebagai penggembalaan domba. Perubahan fungsi tanah menjadi tanah peternakan pun disebabkan karena harga gandum yang turun.
Perubahan tersebut mempunyai dampak terhadap para petani. Sebelumnya, pada saat tanah pertanian masih diusahakan mereka bekerja sebagai petani penyewa. Sebab tanah di Inggris pada dasarnya adalah milik raja dan bangsawan. Sejak tanah itu diubah menjadi lahan peternakan, jumlah pekerja yang dibutuhkan relatif sedikit. Akibatnya, para petani beralih kerja sebagai pekerja di tambang batu bara dan pabrik-pabrik tekstil. Ada pula yang pergi ke kota dan mencari pekerjaan di sana. Namun lapangan pekerjaan terbatas dan akhirnya muncul gelandangan. Munculnya gelandangan menjadi masalah tersendiri bagi pemerintah. Pada saat perkembangan industri sangat pesat di perkotaan, pemerintah dapat menanggulangi masalah gelandangan dengan menjadikan mereka sebagai buruh.
Keenam, munculnya paham ekonomi liberal. Kegiatan lain yang mendorong lahirnya Revolusi Industri adalah kegiatan perekonomian. sejak abad ke-17, dunia pelayaran dan perdagangan di Inggris berkembang pesat. Perkembangan itu dibuktikan oleh banyaknya kongsi-kongsi dagang seperti EIC (East India Company), Virginia Co., Plymouth Co., Massachusets Bay Co., dan lain-lain. Para kongsi dagang banyak memperoleh keuntungan dari menanamkan modal di Inggris dan daerah-daerah lain. Sebagian besar dari keuntungan itu ditabung di bank, sehingga secara keseluruhan aktivitas mereka memberi kesejahteraan bagi Kerajaan Inggris.
Gejolak dalam masyarakat lainnya adalah munculnya paham ekonomi liberal. Tokoh-tokoh yang mengembangkan paham ini adalah Adam Smith, Thomas Robert Malthus, David Ricardo, dan John Stuart Mill. Paham ekonomi liberal muncul sebagai reaksi terhadap paham ekonomi Merkantilisme yang melahirkan sistem ekonomi yang diatur oleh pemerintah.
Para pencetus gagasan ekonomi liberal menyatakan bahwa kemakmuran rakyat akan cepat tercapai apabila rakyat dibebaskan untuk melakukan kegiatan ekonomi. Lahirnya paham ekonomi liberal di Inggris memantapkan persiapan masyarakat menuju suatu zaman industri. Artinya, paham ekonomi liberal memberi peluang bagi perkembangan industri-industri baru di Inggris.
Ketujuh, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejak awal abad ke-16, Inggris mulai memasuki abad pemikiran yang mengakibatkan munculnya ilmuwan-ilmuwan terkemuka dalam berbagai bidang pengetahuan dan teknologi. Bersama dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan baru tersebut muncul pula ide-ide baru.
Ide dan gagasan baru tersebut mendorong terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan yang didasarkan atas ide dan gagasan baru tersebut, memunculkan penemuan-penemuan baru yang dapat memperingan segala jenis pekerjaan manusia. Dengan temuan-temuan baru inilah Revolusi Industri dimulai.

Post a Comment for "Latar Belakang Terjadinya Revolusi Industri"