Islam di Eropa Pada Abad Pertengahan
Sejalan dengan pesatnya perkembangan Islam di Asia dan Afrika, Islam juga menyebar ke Eropa melalui tiga jalan yaitu :
- Jalan pertama yaitu jalan jalan barat, yakni dilakukan dari Afrika Utara melalui Semenanjung Iberia (Spanyol, Portugal, Andorra) dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad (711M). Bahkan, tentara Islam dapat melewati Pegunungan Pirenia yang akhirnya ditahan oleh tentara Prancis di bawah pimpinan Karel Martel di kota Poitiers (732M). Akhirnya, pemerintah Khalifah Umayyah memimpin di semenanjung Iberia yang dikenal dengan bani Umayah II (711-1492M) dengan ibu kotanya yaitu Cordoba.
- Jalan kedua yaitu jalan tengah, yakni dilakukan dari Tunisia melalui Sisilia menuju Semenanjung Apenina. Islam dapat menduduki Sisilia dan Italia selatan, tetapi dapat direbut kembali oleh bangsa Nordia pada abad ke-13.
- Jalan ketiga yaitu jalan timur, pada tahun 1453M, Turki dibawah pimpinan Sultan Muhammad II berhasil menaklukan Byzantium dengan terlebih dahulu menyerang Konstantinopel dari arah belakang yakni laut hitam sehingga mengejutkan tentara Byzantium Timur. Dari Byzantium, tentara Turki Usmani terus melakukan perlawanan sampai ke kota Wina di Austria. Setelah itu, tentara Turki Usmani mundur kembali ke Semenanjung Balkan dan menguasai daerah ini selama kurang lebih empat abad. Baru pada abad ke-19, daerah ini berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Islam. Akan tetapi, kota Konstantinopel masih tetap dikuasai Dinasti Umayyah dan berubah menjadi Istanbul.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan
Eropa banyak berhutang pada dunia Islam karena banyak sekali peradaban yang mempengaruhi Eropa. Spanyol sendiri merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa dalam menyerap ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, baik dalam bentuk politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, dan pendidikan. Beberapa perkembangan Islam antara lain sebagai berikut.
a. Bidang Politik
Terjadi balance of power karena di bagian barat terjadi permusuhan antara bani Umayyah II di Andalusia dengan kekaisaran Karoling di Prancis, sedangkan di bagian timur terjadi perseteruan antara bani Abbasiyah dengan kekaisaran Byzantium Timur di semenanjung Balkan. Bani Abbasiyah juga bermusuhan dengan bani Umayyah II dalam perebutan kekuasaan pada 750M.
Kekaisaran Karoling bermusuhan dengan kekaisaran Byzantium Timur dalam memperebutkan Italia. Oleh karena itu, terjadilah persekutuan antara bani Abbasiyah dengan kekaisaran Karoling, sedangkan bani Umayyah II bersekutu dengan kekaisaran Byzantium Timur. Persekutuan baru berakhir setelah terjadi Perang Palib (1096-1291M)
b. Bidang Sosial Ekonomi
Islam telah menguasai Andalusia pada 711M dan Konstantinopel pada 1453M. Keadaan ini membawa pengaruh besar terhadap pertumbuhan Eropa. Islam berarti telah menguasai daerah Timur Tengah yang ketika itu menjadi jalur dagang dari Asia ke Eropa. Pada saat itu perdagangan ditentukan oleh negara-negara Islam.
c. Bidang Kebudayaan
Melalui bangsa Arab (Islam), Eropa dapat memahami ilmu pengetahuan kuno seperti dari Yunani dan Babilonia. Tokoh-tokoh yang mempengaruhi ilmu pengetahuan dan kebudayaan saat itu antara lain sebagai berikut.
1) Al Farabi (780-863M)
Al Farabi mendapat gelar guru kedua (Aristoteles digelari guru pertama). Al Farabi mengarang buku, mengumpulkan, dan menerjemahkan buku-buku karya Aristoteles.
2) Ibnu Rusyd (1120-1198M)
Ibnu Rusyd memiliki perang yang sangat besar di Eropa sehingga menimbulkan gerakan Averoisme (di Eropa Ibnu Rusyd dipanggil Averoes) yang menuntut kebebasan berpikir. Berawal dari Averoisme inilah lahir reformasi pada abad ke-16 dan rasionalisme pada abad ke-17 di Eropa. Buku-buku karangan Ibnu Rusyd kini hanya ada salinannya dalam bahasa Latin dan banyak dijumpai di perpustakaan-perpustakaan Eropa dan Amerika. Karya beliau dikenal dengan Bidayatul Mujtahid dan Tahafutut Tahaful.
3) Ibnu Sina (980-1060M)
Di Eropa, Ibnu Sina dikenal dengan nama Avicena. Beliau adalah seorang dokter di kota Hamazan Persia, penulis buku-buku kedokteran dan peneliti berbagai penyakit. Beliau juga seorang filsuf yang terkenal dengan idenya mengenai paham serba wujud atau wahdatul wujud. Ibnu Sina juga merupakan ahli fisika dan ilmu jiwa. Karyanya yang terkenal dan penting dalam dunia kedokteran yaitu Al Qanun fi At Tibb yang menjadi suatu rujukan ilmu kedokteran.
d. Bidang Pendidikan
Banyak pemuda Eropa yang belajar di universitas-universitas Islam di Spanyol seperti Cordoba, Sevilla, Malaga, Granada dan Salamanca. Selama belajar di universitas-universitas tersebut, mereka aktif menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan muslim. Pusat penerjemahan itu adalah Toledo. Setelah mereka pulang ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan universitas yang sama.
Universitas yang pertama kali berada di Eropa adalah Universitas Paris yang didirikan pada 1213M. Pada akhir zaman pertengahan di Eropa baru berdiri 18 universitas. Pada universitas tersebut diajarkan ilmu-ilmu yang mereka peroleh dari universitas Islam seperti ilmu kedokteran, ilmu pasti, dan ilmu filsafat.
Banyaknya gambaran berkembangnya Eropa pada saat berada dalam kekuasaan Islam, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, ekonomi maupun politik. Hal-hal tersebut antara lain sebagai berikut.
1) Lahirnya cendekiawan baru. Seorang sarjana Eropa, Petrus Alfonsi belajar ilmu kedokteran pada salah satu fakultas kedokteran di Spanyol dan ketika kembali ke Inggris, ia diangkat menjadi dokter pribadi oleh Raja Henry I (1120M). Selain menjadi dokter, ia bekerja sama dengan Walcher menyusun mata pelajaran ilmu falak berdasarkan pengetahuan sarjana dan ilmuwan muslim yang didapatkannya di Spanyol. Demikian pula dengan Adelard of Bath (1079-1192M) yang pernah belajar pula di Toledo dan setelah kembali ke Inggris, ia pun menjadi seorang sarjana yang termasyhur di negaranya.
2) Cordoba mempunyai perpustakaan yang berisi 40.000 buku dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan.
3) Seorang pendeta Kristen Roma dan Inggris bernama Roger Bacon (1214-1292M) mempelajari bahasa Arab di Paris (1240-1268M). Melalui kemampuan bahasa Arab dan bahasa latin yang dimilikinya, ia dapat membaca naskah asli dan menerjemahkannya ke dalam berbagai ilmu pengetahuan, terutama ilmu pasti. Buku-buku asli dan terjemahan tersebut dibawanya ke Universitas Oxford, Inggris. Sayangnya, penerjemahan tersebut diakui sebagai karyanya tanpa menyebut pengarang aslinya. Di antara buku yang diterjemahkan antara lain adalah Al Manzir karya Ali Al Hasan Ibnu Haitam (965-1038). Dalam buku itu terdapat teori tentang mikroskop dan mesiu yang banyak dikatakan sebagai hasil karya Roger Bacon.
4) Seorang sarjana berkebangsaan Prancis bernama Gerbert d'Aurignac (940-1003M) yang lahir di Cremona, Lombardia, Italia Utara, pernah tinggal di Toledo, Spanyol. Dengan bantuan sarjana muslim di sana, ia berhasil menerjemahkan lebih kurang 92 buah buku ilmiah Islam ke dalam bahasa Latin. Di antara karya tersebut adalah Al Amar karya Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakaria Ar Razi (866-926M) dan sebuah buku kedokteran karangan Qodim Az Zahrawi serta buku Abu Muhammad Al Baitar yang berisi tentang tumbuhan.
5) Banyak sarjana muslim yang berjasa karena telah meneliti dan mengembangkan ilmu pengetahuan, bahkan karya mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa meskipun ironisnya diakui sebagai karya bangsa Eropa. Akibat atau pengaruh dari perkembangan ilmu pengetahuan Islam ini, timbullah kajian filsafat Yunani di Eropa secara besar-besaran dan akhirnya menimbulkan gerakan kebangkitan atau renaisans pada abad ke-14. Berkembangnya pemikiran Yunani ini melalui karya-karya terjemahan bahasa Arab yang kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Latin. Selain itu, Islam membidani gerakan reformasi pada abad ke-16, rasionalisme pada abad ke-17, dan aufklarung atau pencerahan pada abad ke-18.

Post a Comment for "Islam di Eropa Pada Abad Pertengahan"