Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dominasi Gereja di Eropa Pada Abad Pertengahan

       
       Ketika agama Kristen pada abad ke-6 dan setersunya, telah berkembang dengan pesat dan meluas, para pendeta dan gereja telah memegang peranan yang penting. Umat kristen patuh baik dalam keyakinan, gaya hidup maupun cara mencari nafkah. Sistem ekonomi gereja pada saat itu sangat mendominasi dengan gaya agraris. Berkuasanya para pendeta dan sistem kegerejaan itu pula yang menyebabkan otoritas berpikir secara bebas semakin terbatas dan tertindas. Manusia abad pertengahan mandul secara intelektual. Hanya para pendeta dan calon pendeta saja yang bisa belajar dan mengecap dunia pendidikan. Itu pun hanya menciptakan lulusan yang pandai meniru, menjaga tradisi yang sudah ada, serta tidak kreatif untuk melahirkan inovasi baru dalam cara berpikir, penemuan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Pada zaman ini, banyak sisi negatif terutama pada bidang-bidang tertentu, seperti pada bidang sosial, agama, dan arus pemikiran.

a. Sosial
       Pada abad pertengahan rakyat terbagi menjadi beberapa golongan yang kontras dan terjadinya pertarungan antar golongan. Hal ini yang paling mencolok adalah golongan penguasa. Mereka menjadi pihak yang menikmati kemewahan dan kemakmuran serta menguasai golongan yang lain. Adapun golongan menengah, hanya menikmati sedikit kemewahan dan patuh pada penguasa. Adapun golongan ketiga, yaitu kelas buruh dan petani. Mereka bekerja keras tanpa menikmati hasil jerih payahnya dengan layak. Mereka dizalimi oleh penguasa. Karakteristik ini menimbulkan banyak ketimpangan dan kekacauan yang mengancam stabilitas sosial.

b. Agama
       Pada zaman kegelapan beredar paham yang melenceng dalam Kristen, misalnya paham tentang penyalipan Yesus, konsep trinitas, dan lain sebagainya. Pemuka agama (pendeta) pun menjadi sosok yang tertutup. Masyarakat umum tidak dapat masuk menjadi golongan mereka. Para pendeta juga membuat buku pedoman yang makna dan interpretasinya tergantung pada pemahamannya sendiri.
       Pada masa ini para pendeta mengobral paham pengampunan dosa. Artinya, seseorang tidak akan sampai ke surga sebelum datang ke pendeta untuk menyampaikan dosa-dosanya dan membayar sesuai dengan kemampuan, untuk menjamin kedudukannya di surga kelak. Jadi, golongan pendeta dan pemuka agama menjadi kaya karena upah dari pengampunan dosa.

c. Arus Pemikiran
       Pada masa ini arus pemikiran terbatas pada gereja. Hal-hal yang dianggap benar oleh gereja adalah benar bagi semua rakyat. Akal tidak boleh berbeda pendapat dengan gereja. Jika seseorang berusaha dan mencoba untuk berbeda dari gereja, mereka harus dihukum mati atau dibakar hidup-hidup.
       Bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari adalah bahasa Latin. Saat itu bahasa Latin sangat sulit bagi masyarakat. Akan tetapi, lama-kelamaan mereka terbiasa dengan bahasa Latin. Objek pembahasan dan kajian filsafat sebatas metafisika dan pemikiran relativitas. Misalnya, pembahasan tentang kulliyat dan semua pembahasan filsafat relativitas. 
       Selain itu, para filsuf berpegangan pada kritikan yang mandul terhadap persoalan relativitas. Model kritik seperti ini tidak akan menyebabkan perkembangan dari segi pemikiran. Perkembangan kebudayaan pada abad ini pun masih dalam kontrol dan genggaman gereja. Akibatnya, sifatnya dangkal dan terbatas. Keadaan ini berlanjut sampai munculnya gerakan penerjemah Filsafat Islam dan Yunani, yang sampai ke Eropa pada abad pertengahan. Gerakan penerjemah ini dimulai pada abad ke-12. Masyarakat Eropa mengambil banyak manfaat dari filsuf dan pemikir Islam dari hasil terjemahan mereka.

Post a Comment for "Dominasi Gereja di Eropa Pada Abad Pertengahan"