Nabi Khidir Ponce de Leon dan Air Keabadian
Ainul Hayat atau Air Keabadian mencuat dalam kisah hidup Nabi Khidir yang hidup dalam masa pemerintahan Raja Zulkarnain. Dalam sebuah Kisah yang diriwayatkan oleh Ats-tsa labi dari imam Ali diceritakan bahwa Zulkarnain merupakan raja yang disegani dan ditakuti orang di seluruh dunia pada zamannya. Namun demikian Ia adalah raja yang sangat taat kepada Tuhan sehingga selalu didampingi oleh seorang malaikat yang bernama Rofa’il.
Ainul Hayat menurut beberapa ahli tafsir merupakan air kehidupan yang bisa memperpanjang usia manusia. Barang siapa yang meminum airnya seteguk, maka ia tidak akan mati sampai hari kiamat atau jika ia memohon kepada Tuhan untuk dimatikan. Dalam beberapa riwayat menyebutkan bahwa Dajjal sebagai musuh nyata manusia pernah mandi dan minum air ini sehingga tetap hidup hingga saat ini. Tidak hanya Dajjal, seorang Nabi bernama Khidir juga dipercaya masih hidup hingga saat ini karena meminum air tersebut.Mendengar itu raja lalu mengatakan bahwa dirinya ingin hidup selama-lamanya agar bisa lebih lama beribadah kepada Tuhan. Malaikat pun lantas menunjukan bahwa sebenarnya Tuhan menciptakan air di bumi yang bernama Ainul Hayat, artinya sumber air hidup.Ia lalu mengumpulkan seluruh ulama untuk mencari tahu keberadaan Air tersebut. Ternyata hanya satu orang yang mengetahui yakni Nabi Khidir, Ia pernah membaca wasiat tentang Air tersebut dari Nabi Adam. Menurut Nabi, Ainul Hayat berada di tempat yang gelap dan ditempat terbitnya matahari dan merupakan ujung dari dunia. Di manakah tempat itu?
Raja dan rombongan akhirnya mencari tempat tersebut dalam kurun 12 tahun perjalanan. Akhirnya mereka berhasil menemukan tempat terbitnya matahari. Tempatnya digambarkan adalah sebuah tempat yang gelap namun gelapnya bukanlah seperti di waktu malam hari, melainkan gelap karena ada pancaran seperti asap.
Kemudian Raja Iskandar Zulkarnain mulai memasuki area gelap tersebut dengan memerintahkan Nabi Khidir as untuk menemaninya bersama beberapa tentara yang ikut masuk dan yang lainnya lagi menunggu di tepi luar area gelap tersebut. Pada saat mereka berjalan pada tempat gelap tersebut, ada bisikan kepada Nabi Khidir : “Wahai Khidir, bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu letaknya berada disebelah kanan jurang"
Kemudian Nabi Khidir menuju kanan jurang hingga beliau menemukan Ainul Hayat itu. Beliau turun dari kudanya, melepaskan pakaiannya dan turun ke Ainul hayat tersebut. Beliau mandi dan minum air sumber hidup tersebut dan beliau merasakan bahwa airnya lebih manis daripada madu. Sesudah mandi dan minum air tersebut, beliau keluar dari tempat itu kemudian menemui Raja Iskandar Zulkarnaen. Raja tidak mengetahui apa yang telah terjadi atas diri Nabi Khidir.
Selain Dzulkarnain seorang Raja Spanyol yang bernama Ferdinand mengerahkan beberapa orangnya untuk mencari mata air yang melegenda ini. Salah satu dari orang-orang suruhan raja tersebut adalah Ponce de Leon. Ia mencari sebuah mata air yang dapat membuat para orang tua menjadi remaja. Pencariannya dimulai dari pulau Bahama hingga mencapai berbagai tempat di “dunia baru”.
Sayangnya, hingga akhir hayatnya Ponce de Leon tidak pernah menemukan keberadaan mata air legendaris tersebut. Diketahui bahwa Ponce de Leon mati dikarenakan panah dari para suku Indian. Oleh Ponce de Leon mata air keabadian ini disebut Fountain of Youth.
Kalau kalian pernah menonton film Pirates of the Caribbean 4 yang berjudul On Stranger Tides maka kalian akan merasa tidak asing dengan kisah ini, karena sekuel dari film tersebut hampir sama yaitu Kapten Jack Sparrow, Barbossa, Blackbeard, Kerajaan Inggris, dan juga Spanyol berlomba-lomba untuk mencari Air Keabadian (Aqua de Vida). Tetapi kisah di dalam film ini diambil setelah Ponce de Leon telah mati dan gagal menemukan Air Keabadian. Tempat Air Keabadian di film tersebut juga sesuai dengan apa yang telah dikisahkan seperti gelap dan ditutupi kabut. Sepertinya kisah Air Keabadian ini memang ada dan sudah melegenda, khususnya di daerah Eropa yang memang sangat terkenal dengan pelaut ulung seperti :
Portugal : Alfonso de Albuquerque, yang merebut Malaka tahun 1511.
Spanyol : Christophorus Columbus, yang berhasil sampai ke San Salvador di Kepulauan Bahama di perairan Karibia pada tahun 1492.
Inggris : James Cook, berhasil mendarat di pantai timur Benua Australia untuk selanjutnya menelusuri pantai menuju ke utara Australia pada tahun 1770.
Belanda : Cornelis de Houtman, di mana pada tahun 1596, kapal-kapal Belanda di bawah pimpinannya sampai di Pelabuhan Banten.
Air Keabadia dalam Film Pirates of the Caribbean 4


Post a Comment for "Nabi Khidir Ponce de Leon dan Air Keabadian"