Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kemenangan Mao Zedong Dalam Perang Tiongkok


Perang Tiongkok

       Kedudukan Komunis Tiongkok yang dipimpin Mao Zedong semakin kuat setelah Jepang mengadakan agresi militer ke Manchuira tahun 1937. Sebaliknya pemerintahan Nasionalis Chiang Kay Shek tidak mampu berbuat banyak untuk mengusir tentara Jepang. Tahun 1938 Chiang Kay Shek memindahkan ibu kota ke Chungking di pedalaman Tiongkok. Hal ini menyebabkan pemerintahannya semakin kehilangan dukungan dari rakyat Tiongkok sendiri. Sebaliknya, dalam situasi perang, Komunis Tiongkok membangun kekuatannya dan melancarkan perang gerilya di garis perbatasan yang diduduki Jepang. Ketika Jepang menyerah dalam Perang Dunia ke-2, kelompok Nasionalis Chiang Kay Shek dan Komunis Mao Zedong berebut menduduki wilayah yang ditinggalkan Jepang. Dalam persaingan itu, Komunis Mao Zedong memperoleh kemenangan.
       
       Pada tahun 1949, Nasionalis pimpinan Chiang Kay Shek dan pendukungnya meninggalkan Tiongkok daratan menuju Pulau Taiwan. Di Pulau itu mereka meneruskan pemerintahan Nasionalis menurut garis politik Kuo Min Tang. Sementara itu, pada tahun yang sama, Mao Zedong memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (RRT) menggantikan pemerintahan nasionalis Jenderal Chiang Kay Shek di Tiongkok daratan. Kemenangan Mao Zedong membuat khawatir Amerika karena baru menyadari pengaruh Sosialis Komunis telah meluas sampai ke wilayah Asia.

       Hal-hal yang menyebabkan Komunis Tiongkok pimpinan Mao Zedong dapat dengan mudah mengalahkan Nasionalis Chiang Kay Shek karena : 
1. Komunis memperoleh senjata dari Uni Soviet yang berasal dari persenjataan tentara Jepang
2. Uni Soviet menyerahkan Manchuira kepada Komunis Mao Zedong 
3. Korupsi di kalangan kaum Komunis diberantas dengan tegas sehingga mendapat simpati rakyat
4. Kaum Komunis mengadakan pembagian tanah kepada para petani untuk mendapat perhatian dan dukungan dari golongan petani.

       Pemerintahan Komunis Tiongkok ini mendapat dukungan militer dan ekonomi dari Uni Soviet. Kehadiran Tiongkok dengan paham Komunisnya tentu saja menjadi ancaman bagi Blok Barat. Kemampuan Tiongkok membangun angkatan bersenjata dengan personal yang besar, kemampuan tenaga ahlinya yang mampu membuat bom atom, dan keberhasilannya dalam menata kepemilikantanah (landreform) menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Blok Barat.

       Suasana Perang Dingin di wilayah Asia semakin mencekam setelah Komunis Tiongkok berusaha meluaskan ajaran Mao Zedong pada negara-negara berkembang di sekitarnya. Tiongkok juga mulai melancarkan kebijakan ekspansi Tiongkok pada tahun 1950. Kekuatan Tiongkok juga semakin mengkhawatirkan Uni Soviet dan Amerika Serikat karena perannya dalam Perang Korea (1950-1953) dan klaimnya atas wilayah Taiwan. Hubungan harmonis Tiongkok dan Uni Soviet berakhir pada tahun 1960-an. Hal itu disebabkan Tiongkok sangat mengecam kebijakan Uni Soviet untuk hidup berdampingan secara damai dengan Blok Barat. Tiongkok beranggapan bahwa konfrontasi dengan Blok Barat yang menganut demokrasi Liberal adalah hal yang seharusnya. Tiongkok bahkan menuduh Soviet telah mengkhianati Komunisme. Akibat kecaman Tiongkok tersebut, sejak tahun 1960 Soviet menghentikan pengiriman para ahlinya ke Tiongkok. Bahkan, Soviet juga menolak membantu Tiongkok ketika terjadi perang di perbatasan dengan India pada tahun 1962. Akibatnya, Tiongkok semakin memusuhi Soviet setelah negara itu menandatangani perjanjian kerja sama uji coba persenjataan nuklir pada tahun 1963.

       Pada tahun 1966, Mao Zedong  berusaha mengembalikan Tiongkok ke jalur revolusioner karena ia melihat adanya pergeseran dalam pola hidup masyarakat Tiongkok. Untuk memenuhi ambisinya, Mao Zedong melaksanakan Revolusi Kebudayaan. Namun, usaha ini pun mengalami kegagalan. Oleh karena itu, Mao Zedong menggunakan kekuatan militer untuk membenahi keadaan.

       Pada tahun 1970-an beberapa negara Barat seperti Kanada menjalin hubungan diplomatik dengan RRT. Pada tahun1971, Amerika dan sekutunya menerima RRT sebagai anggota PBB menggantikan Taiwan. Pada tanggal 1 Januari 1979, Tiongkok di bawah Pimpinan Deng Xiaoping membuka hubungan diplomatik dengan Amerika. Sepeninggal Mao Zedong, bangsa Tiongkok banyak mengalami perubahan. Kaum Moderat yang mendominasi Partai Komunis Tiongkok berusaha mengurangi kekaguman dan pengultusan terhadap pimpinan besar Mao Zedong. Pemerintah Tiongkok juga menjalin hubungan dengan berbagai negara. Mereka juga berusaha memodernisasi Tiongkok dengan menerima bantuan dari luar negeri.



Post a Comment for "Kemenangan Mao Zedong Dalam Perang Tiongkok "