Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Misteri Tongkat Komando Soekarno


       Dr. Ir. H. Soekarno adalah Presiden pertama Republik Indonesia yang menjabat pada periode 1945–1966. Ia memainkan peranan penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.

       Sebagai pemimpin yang disegani dan dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia, tetap ada segelintir orang atau organisasi yang ingin melengserkan kedudukan Ir. Soekarno dari kursi kepemimpinan, sampai ada beberapa usaha pembunuhan yang dilakukan kepada Ir. Soekarno. 

       Menurut puteri Ir. Soekarno yaitu Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputeri atau lebih biasa kita dengar Megawati Soekarnoputeri ada 23 percobaan pembunuhan yang dilakukan kepada Presiden pertama Ir. Soekarno, akan tetapi tidak semua kejadian tersebut tercatat dalam sejarah. Saya akan memaparkan beberapa kejadian percobaan pembunuhan tersebut.


1. Peristiwa Granat Cikini



       30 November 1957. Presiden Soekarno datang ke Perguruan Cikini, tempat bersekolah putera dan puteri beliau, dalam rangka perayaan ulang tahun ke-15 Perguruan Cikini. Granat tiba-tiba meledak di tengah perayaan. Sembilan orang tewas, 100 orang terluka, termasuk pengawal Presiden. Ir. Soekarno beserta putera puterinya selamat. Tiga orang ditangkap akibat kejadian tersebut. mereka diduga sebagai anggota gerakan DI/TII.


2. Pilot Daniel Alexander Maukar


       9 Maret 1960. Tepat siang bolong Istana presiden dihentakkan oleh ledakan yang berasal dari tembakan kanon 23 mm pesawat Mig-17 yang dipiloti Daniel Alexander Maukar. Maukar adalah Letnan AU yang telah dipengaruhi Permesta. Setidaknya ada dua kanon yang dijatuhkan oleh Maukar yang satu menghantam pilar dan yang satunya menghantam lokasi yang posisinya sangat dekat dengan meja kerja Soekarno. Untunglah Soekarno tak ada di situ. Soekarno tengah memimpin rapat di gedung sebelah Istana Presiden. Maukar sendiri membantah ia mencoba membunuh Soekarno. Aksinya hanya sekadar peringatan. Sebelum menembak Istana Presiden, dia sudah memastikan tak melihat bendera kuning dikibarkan di Istana tanda presiden ada di Istana. Pesawat milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI),yang sekarang berganti nama menjadi TNI AU, yang melakukan penyerangan itu yang diketahui dipiloti anggota AURI berpangkat Letnan II Penerbang Daniel Alexander Alexander Maukar yang dijuluki Tiger dengan nomor pesawat 1112. Aksi ini membuat si Tiger harus mendekam di bui selama 8 tahun.



3. Pencegatan Rajamandala



       April 1960. Perdana Menteri Uni Soviet kala itu, Nikita Kruschev mengadakan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Dia menyempatkan diri mengunjungi kota kota besar yaitu Bandung, Yogya dan Bali. Presiden Soekarno menyertainya dalam perjalanan ke Jawa Barat. Tatkala, sampai di Jembatan Rajamandala, ternyata sekelompok anggota DI/TII melakukan penghadangan.  Dengan sigap pasukan pengawal presiden yang terlatih langsung meloloskan kedua pemimpin dunia tersebut.

4. Granat Makassar

       7 Januari 1962. Presiden Soekarno tengah berada di Makassar. Malam itu, beliau akan menghadiri sebuah acara di Gedung Olahraga Mattoangin. Ketika itulah, saat melewati jalan Cendrawasih, seseorang melemparkan granat. Granat itu meleset, jatuh mengenai mobil lain. Soekarno selamat. Pelakunya Serma Marcus Latuperissa dan Ida Bagus Surya Tenaya divonis hukuman mati.

5. Penembakan Idul Adha



       14 Mei 1962. Bachrum sangat senang ketika berhasil mendapatkan posisi duduk pada saf Sholat bagian depan dalam barisan jamaah sholat Idul Adha di masjid Baiturahim. Begitu melihat Soekarno, dia mencabut pistol yang tersembunyi di balik jasnya, lalu diarahkan ke tubuh Soekarno. Dalam sekejap mata ketika tersadar, arah pun melenceng, dan peluru meleset dari tubuh soekarno, dan akhirnya mengenai Ketua DPR GR KH Zainul Arifin. Bachrum divonis hukuman mati, namun kemudian dia mendapatkan grasi.


6. Penembakan Mortir Kahar Muzakar
  


       1960-an. Presiden Soekarno dalam kunjungan kerja ke Sulawesi. Saat berada dalam perjalanan keluar dari Lapangan Terbang Mandai, sebuah peluru mortir diluncurkan oleh anak buah Kahar Muzakkar. yang diarahkan tepat di kendaraan Bung Karno, tetapi entah kenapa ternyata arahnya meleset jauh.

7. Granat Cimanggis




       Desember 1964. Presiden Soekarno dalam perjalanan dari Bogor menuju Jakarta. Rombongannya membentuk konvoi kendaraan. Dalam laju kendaraan yang perlahan, mata Soekarno sempat bersirobok dengan seorang lelaki tak dikenal di pinggir jalan. Perasaan Soekarno kurang nyaman. Benar saja, lelaki itu melemparkan sebuah granat ke arah mobil presiden. Akan tetapi jarak pelemparan bom dan posisi mobil sudah di luar jangkauan. Soekarno pun selamat.

       Dari bebrapa percobaan pembunuhan terhadap Ir. Soekarno, banyak yang berpendapat bahwa tongkat komando Ir. Soekarno lah yang menyelamatnya nyawanya dan dikabarkan tongkat ini mengandung kesaktian yang didalamnya berisikan sebuah keris. Peristiwa yang paling heboh pada saat itu adalah (pada poin ke 5) pada sholat Idul Adha, pada saat sidang Bachrun mengatakan bahwa ketika ia akan menembak Ir. Soekarno, ia melihat Ir. Soekarno membelah diri menjadi 5, hal ini lah yang membuat Bachrun bingung dan membuat tembakannya meleset dan mengenai Ketua DPR GR KH Zainul Arifin. Kejadian inilah yang membuat banyak orang bespekulasi bahwa Ir. Soekarno selamat karena dilindungi oleh kesaktian tongkat komando miliknya, akan tetapi Ir. Soekarno menyangkal dan menampik semua anggapan tersebut, menurutnya tongkat komando miliknya adalah tongkat komando biasa dan selamatnya dari percobaan pembunuhan karena perlindungan oleh Tuhan yang Maha Esa. 







       Anggapan ini diperkuat oleh pernyataan dari seorang sejarawan yaitu Peter Kasenda yang mengatakan bahwa tongkat komando Ir. Soekarno tidak mengandung kesaktian hal ini dibuktkan dengan adanya seseorang yang berpendapat bahwa tongkat Ir. Soekarno dapat mendatangkan hujan ketika ditancapkan ke tanah, Ir. Soekarno menantangnya dan akan membelikan dua mobil apabila terbukti benar namun saat tongkat ditancapkan ke tanah hujan tidak turun.

Post a Comment for "Misteri Tongkat Komando Soekarno"